Oleh: Muhammad Robbish Thovani
"Di tengah dunia yang semakin bising, manusia justru
semakin kesulitan menemukan keheningan di dalam dirinya."
Krisis yang Tidak Selalu Tampak
Kemajuan peradaban telah mengubah hampir seluruh cara
manusia menjalani kehidupan. Teknologi mempercepat komunikasi, kecerdasan
buatan mempermudah pekerjaan, dan media sosial memungkinkan seseorang terhubung
dengan jutaan orang hanya melalui layar telepon genggam. Namun di balik segala
kemudahan tersebut, tersimpan sebuah ironi besar: semakin maju peradaban,
semakin banyak manusia yang kehilangan ketenangan batinnya.
Laporan World Health Organization (WHO) menunjukkan
bahwa gangguan kecemasan (anxiety disorders) menjadi salah satu masalah
kesehatan yang paling banyak dialami masyarakat dunia. Di Indonesia, fenomena
ini juga semakin nyata. Banyak orang tampak tersenyum di hadapan publik, tetapi
menyimpan kegelisahan yang tidak pernah diketahui orang lain. Ada yang sulit
tidur karena tekanan ekonomi, ada yang merasa gagal karena membandingkan
hidupnya dengan orang lain, dan ada pula yang mengalami kekosongan batin
meskipun secara materi tidak kekurangan apa pun.
Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan terbesar manusia
bukan lagi sekadar bagaimana memenuhi kebutuhan fisik, melainkan bagaimana
menemukan makna hidup dan ketenteraman jiwa. Pertanyaannya kemudian, apakah
ketenangan dapat dibeli dengan harta, diperoleh melalui jabatan, atau dicapai
dengan popularitas?
Al-Qur'an memberikan jawaban yang sangat tegas.
﴿الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ
قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ﴾
"Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi
tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati
menjadi tenteram." (QS. ar-Ra'd [13]: 28).
Ayat ini
merupakan salah satu fondasi utama psikologi Islam. Allah tidak mengatakan
bahwa ketenangan berasal dari banyaknya harta, tingginya jabatan, atau luasnya
pengaruh sosial. Sebaliknya, Allah menegaskan bahwa sumber ketenteraman sejati
adalah dzikrullah, yaitu kesadaran yang terus-menerus akan
kehadiran Allah dalam kehidupan manusia.
Menariknya, ayat
tersebut diawali dengan kata "أَلَا" (alā). Menurut Imam al-Qurṭubī,
kata ini merupakan ḥarf at-tanbīh, yaitu
bentuk penegasan yang berfungsi menarik perhatian pembaca terhadap suatu
kebenaran yang sangat penting. Seakan-akan Allah sedang memperingatkan manusia
agar tidak salah mencari sumber kebahagiaan.[1]
Mengapa Hati
Menjadi Pusat Kehidupan?
Dalam pandangan Islam, hati (qalb) bukan sekadar
organ biologis yang memompa darah. Hati
adalah pusat kesadaran spiritual, tempat lahirnya iman, niat, keikhlasan, rasa
takut, cinta, dan seluruh keputusan moral manusia.
Karena itu Rasulullah ﷺ bersabda,
«أَلَا وَإِنَّ
فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا
فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ»
"Ketahuilah, dalam tubuh terdapat segumpal daging.
Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh
tubuh. Ketahuilah, itulah hati." (HR. al-Bukhari No. 52; Muslim
No. 1599).[2]
Hadis ini menunjukkan bahwa akar dari seluruh perilaku
manusia berada di dalam hati. Kerusakan moral, hilangnya empati, kesombongan,
hingga keputusasaan bukanlah persoalan lahiriah semata, melainkan cerminan dari
kondisi hati yang mulai kehilangan orientasi kepada Allah.
Imam Abu Hamid al-Ghazali menjelaskan bahwa hati diciptakan
untuk mengenal Allah (ma'rifatullah). Ketika hati disibukkan oleh sesuatu selain Allah, maka ia akan kehilangan
fungsi aslinya. Dalam Iḥyā'
'Ulūm ad-Dīn beliau menulis:
«إِنَّ
الْقَلْبَ خُلِقَ لِمَعْرِفَةِ اللهِ وَمَحَبَّتِهِ، فَإِذَا اشْتَغَلَ بِغَيْرِهِ
مَرِضَ وَتَعِبَ»
"Sesungguhnya hati diciptakan untuk mengenal Allah
dan mencintai-Nya. Apabila ia
disibukkan oleh selain-Nya, maka ia akan sakit dan letih."[3]
Pernyataan
al-Ghazali ini mengandung makna yang sangat mendalam. Manusia modern
sering mengira bahwa kekosongan batinnya dapat diisi dengan hiburan, belanja,
atau pencapaian karier. Padahal semua itu hanya memenuhi kebutuhan jasmani dan
sosial. Adapun hati memiliki kebutuhan yang berbeda: ia membutuhkan hubungan
yang hidup dengan Sang Pencipta.
Kekosongan
yang Tidak Dapat Diisi oleh Dunia
Penjelasan
al-Ghazali tersebut diperdalam oleh Ibnul Qayyim al-Jauziyyah. Dalam
karya monumentalnya Madārij al-Sālikīn, beliau menulis:
«فِي الْقَلْبِ
فَاقَةٌ لَا يَسُدُّهَا إِلَّا اللَّهُ، وَفِيهِ وَحْشَةٌ لَا يُزِيلُهَا إِلَّا
الْأُنْسُ بِهِ، وَفِيهِ حُزْنٌ لَا يُذْهِبُهُ إِلَّا السُّرُورُ بِمَعْرِفَتِهِ»
"Di dalam hati terdapat kekosongan yang tidak dapat
dipenuhi kecuali oleh Allah. Di dalamnya terdapat kesepian yang tidak akan
hilang kecuali dengan merasa dekat kepada-Nya. Dan di dalamnya terdapat
kesedihan yang tidak akan sirna kecuali dengan kebahagiaan karena
mengenal-Nya."[4]
Ungkapan ini
menjelaskan mengapa sebagian orang tetap merasa hampa meskipun telah memperoleh
apa yang selama ini diimpikannya. Rumah yang megah, kendaraan mewah, gelar
akademik, maupun jabatan tinggi memang dapat memberikan rasa bangga, tetapi
semuanya tidak mampu menggantikan kebutuhan terdalam manusia untuk mengenal
Allah.
Viktor Frankl,
seorang psikiater sekaligus pendiri Logotherapy, menyebut kondisi
tersebut sebagai existential vacuum, yakni kehampaan eksistensial
yang muncul ketika manusia kehilangan makna hidup.[5]
Menariknya, konsep ini memiliki kesesuaian dengan penjelasan para ulama Islam
bahwa hati yang jauh dari Allah akan mengalami kekosongan yang tidak dapat
diisi oleh kenikmatan dunia.
Ketika Dunia Berpindah ke Dalam Hati
Islam tidak melarang umatnya mencintai dunia dalam batas
yang wajar. Islam justru memerintahkan umatnya bekerja, berdagang,
mengembangkan ilmu pengetahuan, dan membangun peradaban. Namun Islam
mengingatkan agar dunia hanya berada di tangan, bukan di dalam hati.
Allah Swt. berfirman:
﴿اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا
لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ
وَالْأَوْلَادِ﴾
"Ketahuilah bahwa kehidupan dunia hanyalah
permainan, senda gurau, perhiasan, saling bermegah-megahan di antara kalian,
dan berlomba-lomba dalam harta serta anak-anak." (QS. al-Ḥadīd [57]: 20).
Menurut Fakhruddin ar-Razi, ayat ini tidak mengharamkan
dunia, tetapi mengkritik manusia yang menjadikan dunia sebagai tujuan akhir
kehidupannya.[6] Ketika kebahagiaan hanya diukur dari
pencapaian materi, maka hati akan terus merasa kurang karena dunia tidak pernah
mengenal kata cukup.
Rasulullah ﷺ
mengingatkan:
«لَيْسَ
الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ»
"Kekayaan
bukanlah karena banyaknya harta benda, melainkan kaya hati." (HR. al-Bukhari No. 6446;
Muslim No. 1051).[7]
Hadis ini mengubah paradigma manusia tentang makna keberhasilan. Kekayaan sejati bukanlah banyaknya aset yang dimiliki, tetapi kemampuan hati untuk merasa cukup (qanā'ah) atas karunia Allah.
Bersambung ke Bagian II
Pada bagian berikutnya akan kami bahas bagaimana budaya membandingkan diri (social comparison), jauhnya manusia dari Al-Qur'an, serta akumulasi dosa menjadi penyebab utama hilangnya ketenangan batin. Pembahasan juga akan diperkaya dengan analisis Imam Ibn Rajab, Imam an-Nawawi, penelitian psikologi positif Martin Seligman, serta solusi praktis berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah.
Sumber Rujukan:
[1] Al-Qurṭubī, Al-Jāmi' li Aḥkām al-Qur'ān, tahqīq:
'Abdullāh ibn 'Abd al-Muḥsin
at-Turkī, Beirut: Mu'assasah ar-Risālah, Cet. I, 2006, jil. 11, pembahasan QS.
ar-Ra'd: 28.
[2] Muḥammad ibn Ismā'īl al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb al-Īmān, No. 52; Muslim ibn al-Ḥajjāj, Ṣaḥīḥ Muslim, No. 1599.
[3] Abū
Ḥāmid al-Ghazālī, Iḥyā' 'Ulūm ad-Dīn, Beirut:
Dār al-Ma'rifah, tanpa tahun, jil. 3, Kitāb Syarḥ
'Ajā'ib al-Qalb.
[4] Ibn
Qayyim al-Jauziyyah, Madārij as-Sālikīn, tahqīq Muḥammad Ḥāmid al-Fiqī, Beirut: Dār al-Kitāb al-'Arabī,
Cet. II, 1973, jil. 3, hlm. 156–157.
[5] Viktor E. Frankl, Man's Search for Meaning, Boston: Beacon Press, 2006.
[6] Fakhruddin
ar-Rāzī, Mafātīḥ
al-Ghayb, Beirut: Dār Iḥyā'
at-Turāth al-'Arabī, Cet. III, 1420 H, jil. 29, tafsir QS. al-Ḥadīd: 20.
[7] Al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, No. 6446;
Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, No. 1051.

0 Komentar