Lanjutan dari Part 1....
Ketika Manusia Mulai Kehilangan Arah
Apabila kita cermati lebih dalam, akar kegelisahan manusia
modern sesungguhnya bukan semata-mata berasal dari banyaknya persoalan hidup,
melainkan dari berubahnya orientasi hidup itu sendiri. Semakin jauh hati dari Allah, semakin rapuh pula
jiwa menghadapi perubahan zaman. Sebaliknya, semakin dekat seorang hamba kepada
Rabb-nya, semakin kuat pula ia menghadapi berbagai ujian, meskipun keadaan di
sekelilingnya tidak selalu ideal.
Al-Qur'an tidak
pernah menjanjikan bahwa orang beriman akan hidup tanpa kesulitan. Yang
dijanjikan Allah adalah ketenangan di tengah kesulitan, bukan hilangnya
seluruh kesulitan. Inilah makna terdalam dari ṭuma'nīnah; sebuah keteguhan batin yang lahir karena
keyakinan bahwa setiap takdir berada dalam genggaman Allah Yang Maha Bijaksana.
Dalam perspektif
inilah, terdapat tiga penyakit hati yang sangat dominan pada masyarakat modern.
1.
Hilangnya Rasa Syukur: Penyakit Perbandingan
Sosial
Salah satu
karakter masyarakat digital adalah kecenderungan membandingkan kehidupan
sendiri dengan kehidupan orang lain. Media sosial menghadirkan
potongan-potongan kebahagiaan yang telah dipilih dengan sangat selektif. Kita
melihat rumah yang megah, kendaraan baru, perjalanan ke luar negeri, prestasi
akademik, bahkan keharmonisan keluarga orang lain. Namun yang tidak pernah kita
lihat adalah air mata, kegagalan, hutang, konflik rumah tangga, ataupun
perjuangan panjang yang mereka sembunyikan.
Akibatnya, banyak
orang merasa hidupnya kurang, bukan karena benar-benar kekurangan, melainkan
karena terlalu sering melihat apa yang dimiliki orang lain.
Fenomena ini
telah dijelaskan dalam psikologi sosial melalui Social Comparison Theory
yang dikembangkan oleh Leon Festinger pada tahun 1954. Menurut teori tersebut,
manusia secara alami mengevaluasi dirinya dengan membandingkan dirinya terhadap
orang lain. Ketika perbandingan itu terus dilakukan kepada orang yang dianggap
lebih berhasil (upward comparison), muncul rasa iri, rendah diri,
kecemasan, bahkan depresi.
Islam telah
mengantisipasi fenomena ini jauh sebelum ilmu psikologi berkembang.
Allah Swt. berfirman,
وَإِذْ تَأَذَّنَ
رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي
لَشَدِيدٌ
"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan,
'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu,
tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat
pedih.'" (QS. Ibrāhīm [14]: 7).
Menurut Imam Ibn Kathīr, ayat ini tidak hanya berbicara
tentang penambahan nikmat secara materi, tetapi juga keberkahan, ketenteraman,
serta kemampuan menikmati nikmat yang telah dimiliki.[1]
Seseorang mungkin memiliki sedikit harta, tetapi apabila hatinya dipenuhi rasa
syukur, ia akan merasakan kecukupan yang tidak dapat dibeli oleh kekayaan
sebesar apa pun.
Rasulullah ﷺ
memberikan terapi psikologis yang sangat relevan bagi masyarakat modern.
انْظُرُوا إِلَى مَنْ
هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ
أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ
"Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian
dalam urusan dunia dan jangan melihat kepada orang yang berada di atas kalian.
Hal itu lebih pantas agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah." (HR.
Muslim No. 2963).[2]
Imam an-Nawawī menjelaskan bahwa hadis ini merupakan metode
efektif untuk menjaga qanā'ah dan menghindarkan hati dari penyakit
hasad. Sebaliknya, dalam urusan ibadah dan amal saleh, seorang Muslim justru
dianjurkan melihat kepada orang yang lebih baik agar termotivasi meningkatkan
kualitas dirinya.[3]
Penelitian Robert Emmons, salah seorang tokoh psikologi
positif, menunjukkan bahwa individu yang membiasakan praktik gratitude secara
konsisten memiliki tingkat kebahagiaan, optimisme, dan kesehatan mental yang
lebih tinggi dibandingkan mereka yang berfokus pada kekurangan hidupnya.[4]
Apa yang kini dibuktikan oleh psikologi modern sejatinya telah diajarkan
Al-Qur'an lebih dari empat belas abad yang lalu.
2.
Ketika Al-Qur'an Tidak Lagi Menjadi Sahabat
Salah satu
paradoks terbesar umat Islam hari ini adalah semakin mudah mengakses Al-Qur'an,
tetapi semakin sedikit waktu yang dihabiskan untuk berinteraksi dengannya.
Coba renungkan sejenak.
Berapa jam setiap hari kita menatap layar telepon genggam? Berapa
menit kita membaca Al-Qur'an dengan penuh penghayatan? Mungkin kita lebih hafal
bunyi notifikasi daripada ayat-ayat Allah.
Padahal Allah berfirman,
وَنُنَزِّلُ مِنَ
الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ
"Kami turunkan Al-Qur'an sebagai penawar dan rahmat
bagi orang-orang yang beriman." (QS. al-Isrā' [17]: 82).
Perhatikan penggunaan kata شِفَاءٌ
(syifā'). Menurut Imam al-Qurṭubī,
Al-Qur'an disebut sebagai syifā' karena ia menyembuhkan penyakit syubhat
(keraguan), syahwat yang menyimpang, kegelisahan, serta berbagai penyakit hati
lainnya.[5]
Ibnul Qayyim bahkan menyebut Al-Qur'an sebagai obat yang
paling sempurna, tetapi manfaatnya hanya akan dirasakan oleh hati yang
membuka diri terhadap petunjuk Allah. Dalam Zād al-Ma'ād, beliau menulis
bahwa siapa yang menjadikan Al-Qur'an sebagai penawar dengan penuh keyakinan,
niscaya Allah akan menyembuhkan penyakit hatinya.[6]
Sayangnya, di era
digital perhatian manusia menjadi komoditas yang diperebutkan. Berbagai
aplikasi dirancang untuk mempertahankan fokus pengguna selama mungkin.
Akibatnya, ruang batin yang seharusnya dipenuhi cahaya wahyu justru dipenuhi
informasi yang bersifat sementara. Tidak mengherankan jika banyak orang merasa
lelah secara mental meskipun tidak melakukan pekerjaan fisik yang berat.
3.
Dosa: Luka yang Tidak
Terlihat
Di antara seluruh penyebab hilangnya ketenangan, ada satu
faktor yang sering diabaikan, yaitu dosa yang dilakukan secara terus-menerus
tanpa taubat.
Rasulullah ﷺ
bersabda,
إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا
أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِنْ هُوَ نَزَعَ
وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ صُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى
تَعْلُوَ قَلْبَهُ
"Apabila
seorang hamba melakukan suatu dosa, akan muncul satu titik hitam pada hatinya.
Jika ia berhenti, beristighfar, dan bertaubat, maka hatinya akan kembali
bersih. Namun jika ia mengulanginya, titik hitam itu akan bertambah hingga
menutupi seluruh hatinya." (HR. at-Tirmiżī No. 3334).[7]
Hadis ini
menjelaskan bahwa dosa bukan hanya meninggalkan konsekuensi hukum, tetapi juga
meninggalkan bekas psikologis dan spiritual. Setiap maksiat mengurangi
sensitivitas hati terhadap kebenaran. Sedikit demi sedikit, seseorang
kehilangan rasa bersalah, malas beribadah, dan semakin jauh dari cahaya
petunjuk.
Fenomena ini
dijelaskan Al-Qur'an melalui firman Allah,
كَلَّا بَلْ ۜ رَانَ
عَلَىٰ قُلُوبِهِم مَّا كَانُوا يَكْسِبُونَ
"Sekali-kali
tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka." (QS. al-Muṭaffifīn [83]: 14).
Menurut Ibn Kathīr, kata الرَّانُ (ar-rān) berarti lapisan dosa yang terus menutupi hati hingga cahaya iman tidak lagi mampu menembusnya.[8] Inilah sebabnya para ulama selalu mengaitkan kebersihan hati dengan taubat yang berkesinambungan.
4.
Jalan Pulang Selalu Terbuka
Meskipun manusia
dipenuhi kekurangan, Islam tidak pernah mengajarkan keputusasaan. Sebaliknya,
Al-Qur'an membuka pintu harapan seluas-luasnya.
Allah Swt.
berfirman,
قُلْ يَا عِبَادِيَ
الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ
إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا
"Katakanlah, 'Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui
batas terhadap dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah.
Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa.'" (QS. az-Zumar [39]: 53).
Ibnu Katsir menyebut ayat ini sebagai salah satu ayat yang
paling memberikan harapan bagi orang-orang yang ingin kembali kepada Allah.
Menariknya, Allah memanggil mereka dengan sebutan "يَا
عِبَادِي" (Wahai hamba-hamba-Ku), bukan "wahai para
pendosa". Ini menunjukkan bahwa rahmat Allah selalu mendahului murka-Nya.[9]
Pada akhirnya, ketenangan hati bukanlah hadiah bagi mereka
yang hidup tanpa masalah, melainkan anugerah bagi mereka yang terus menjaga
hubungan dengan Allah. Harta dapat hilang, jabatan dapat dicabut, kesehatan
dapat menurun, dan orang-orang yang kita cintai suatu saat akan berpisah dengan
kita. Namun selama hati tetap terikat kepada Allah, selalu ada tempat untuk
kembali, selalu ada harapan untuk bangkit, dan selalu ada kedamaian yang tidak
mampu dirampas oleh perubahan zaman.
Sebagaimana firman-Nya,
يَا أَيَّتُهَا
النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً
فَادْخُلِي فِي عِبَادِي وَادْخُلِي جَنَّتِي
"Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu
dengan hati yang rida dan diridai. Maka masuklah ke dalam golongan
hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku." (QS. al-Fajr [89]:
27–30).
Barangkali inilah tujuan terbesar perjalanan hidup seorang
mukmin: bukan sekadar menjadi manusia yang sukses di mata dunia, melainkan
menjadi hamba yang pulang kepada Tuhannya dengan membawa qalbun salīm—hati
yang bersih, tenang, dan penuh cinta kepada-Nya.
[1] Ibn
Kathīr, Tafsīr al-Qur'ān al-'Aẓīm,
tahqīq Sāmī ibn Muḥammad
Salāmah, Riyadh: Dār Ṭayyibah
li an-Nasyr wa at-Tauzī', Cet. II, 1999, jil. 4, hlm. 479–480 (tafsir QS.
Ibrāhīm: 7).
[2] Muslim
ibn al-Ḥajjāj, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb az-Zuhd wa
ar-Raqā'iq, No. 2963.
[3] Yaḥyā ibn Syaraf an-Nawawī, Al-Minhāj
Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim ibn al-Ḥajjāj, Beirut: Dār Iḥyā' at-Turāth al-'Arabī, Cet.
II, 1392 H, jil. 18, hlm. 95.
[4] Robert A. Emmons, Thanks!: How the New Science of Gratitude Can Make You Happier, Boston: Houghton Mifflin, 2007.
[5] Al-Qurṭubī, Al-Jāmi' li Aḥkām al-Qur'ān, Mu'assasah
ar-Risālah, Cet. I, 2006, jil. 13, tafsir QS. al-Isrā': 82.
[6] Ibn Qayyim al-Jauziyyah, Zād al-Ma'ād fī Hadyi Khayr al-'Ibād, Beirut: Mu'assasah ar-Risālah, Cet. XXVII, 1994, jil. 4, hlm. 352–356.
[7] Muḥammad ibn 'Īsā at-Tirmiżī, Sunan
at-Tirmiżī, Kitāb Tafsīr al-Qur'ān, No. 3334.
[8] Ibn Kathīr, Tafsīr al-Qur'ān al-'Aẓīm, jil. 8, hlm. 358–359, tafsir QS. al-Muṭaffifīn: 14.
[9] Ibid.
0 Komentar