Pendahuluan: Ketika Tahun Baru Islam Hanya Menjadi Seremonial
Setiap kali 1 Muharram tiba, umat Islam berbondong-bondong memperingati Tahun Baru Hijriah. Spanduk dipasang, pawai digelar, doa akhir dan awal tahun dibaca, serta berbagai kegiatan keagamaan dilaksanakan. Semua itu tentu baik sebagai bentuk syiar. Namun ada satu pertanyaan mendasar yang perlu diajukan: apakah kita benar-benar sedang berhijrah, atau hanya sedang memperingati hijrah?
Tidak sedikit umat Islam yang hafal sejarah hijrah Nabi Muhammad ﷺ dari Makkah ke Madinah, tetapi lupa bahwa hijrah bukan sekadar perpindahan geografis. Hijrah adalah perpindahan paradigma, perubahan mentalitas, transformasi sosial, dan pembangunan peradaban.
Karena itu, menyongsong Tahun Baru Islam 1448 H semestinya tidak berhenti pada romantisme sejarah, melainkan menjadi momentum muhasabah kolektif: sejauh mana umat Islam hari ini telah bergerak menuju kualitas hidup yang lebih baik, lebih berilmu, lebih beradab, dan lebih bermanfaat bagi semesta.
Hijrah: Dari Peristiwa Historis Menuju Konsep Peradaban
Allah Swt. berfirman:
وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً ۖ وَلَأَجْرُ الْآخِرَةِ أَكْبَرُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
"Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah setelah mereka dizalimi, sungguh Kami akan memberikan tempat yang baik kepada mereka di dunia, dan pahala akhirat pasti lebih besar." (QS. An-Nahl: 41)
Dalam tafsirnya, Imam Fakhruddin ar-Razi menjelaskan bahwa hijrah bukan semata meninggalkan tempat, tetapi meninggalkan segala sesuatu yang menghalangi ketaatan kepada Allah.
Beliau menulis:
الهجرة ليست مقصورة على الانتقال من بلد إلى بلد، بل المقصود الانتقال من حالٍ مذموم إلى حالٍ محمود
"Hijrah tidak terbatas pada perpindahan dari satu negeri ke negeri lain, melainkan perpindahan dari keadaan yang tercela menuju keadaan yang terpuji."
(Mafâtîḥ al-Ghayb, Juz 20)
Dari sini terlihat bahwa esensi hijrah adalah transformasi. Seseorang belum layak disebut berhijrah hanya karena berganti penampilan, jabatan, lingkungan, atau bahkan organisasi. Hijrah sejati adalah perubahan orientasi hidup menuju ridha Allah.
Krisis Umat Hari Ini: Banyak Bergerak, Sedikit Berubah
Ironisnya, umat Islam saat ini hidup di tengah kemajuan teknologi yang luar biasa, tetapi sering kali mengalami kemunduran dalam kualitas berpikir.
Informasi melimpah, tetapi literasi minim.
Konten dakwah bertebaran, tetapi kedalaman ilmu semakin langka.
Perdebatan agama semakin ramai, tetapi akhlak diskusi semakin menurun.
Kita hidup di era ketika seseorang bisa berbicara tentang agama selama berjam-jam melalui media sosial, tetapi belum tentu pernah mengkhatamkan satu kitab secara utuh.
Fenomena ini mengingatkan pada peringatan Imam al-Ghazali dalam Ihya' Ulumiddin:
العلم بلا عمل جنون والعمل بلا علم لا يكون
"Ilmu tanpa amal adalah kegilaan, dan amal tanpa ilmu tidak akan bernilai."
Krisis terbesar umat hari ini bukanlah kekurangan informasi, melainkan kehilangan orientasi.
Kita sibuk mengejar viralitas, tetapi lupa membangun kapasitas.
Kita berlomba menjadi terkenal, tetapi enggan menjadi ahli.
Kita ingin cepat didengar, tetapi malas belajar mendengar.
Padahal peradaban besar tidak dibangun oleh mereka yang paling ramai berbicara, melainkan oleh mereka yang paling serius menyiapkan diri.
Muharram dan Spirit Pembaruan Diri
Muharram adalah bulan pertama dalam kalender Islam. Penempatannya bukan kebetulan.
Allah berfirman:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ
"Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ada dua belas bulan dalam ketetapan Allah sejak Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram." (QS. At-Taubah: 36)
Menurut Imam Ibn Kathir, salah satu dari empat bulan haram tersebut adalah Muharram, bulan yang dimuliakan Allah dan menjadi momentum memperbanyak amal saleh.
Muharram mengajarkan bahwa perubahan harus dimulai dari diri sendiri sebelum menuntut perubahan orang lain.
Sebagaimana firman Allah:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra'd: 11)
Ayat ini sering dikutip, tetapi jarang direnungkan secara mendalam. Allah tidak menjanjikan perubahan tanpa ikhtiar. Tidak ada kebangkitan tanpa pembaruan diri. Tidak ada kemajuan umat tanpa revolusi mental.
Dari Hijrah Personal Menuju Hijrah Sosial
Kesalahan umum dalam memahami hijrah adalah membatasinya pada ranah individual. Padahal hijrah Nabi ﷺ melahirkan masyarakat baru, sistem sosial baru, bahkan peradaban baru.
Sesampainya di Madinah, Rasulullah ﷺ tidak hanya membangun masjid, tetapi juga:
- Membangun persaudaraan (mu'akhah).
- Menyusun Piagam Madinah.
- Mengembangkan ekonomi umat.
- Menguatkan pendidikan.
- Menegakkan keadilan sosial.
Inilah alasan mengapa hijrah menjadi titik awal kalender Islam.
Bukan karena perjalanan fisiknya, melainkan karena di sanalah lahir fondasi peradaban Islam.
Dalam Muqaddimah, Ibn Khaldun menjelaskan:
الإنسان مدني بالطبع
"Manusia pada dasarnya adalah makhluk yang membangun peradaban sosial."
Karena itu, hijrah 1448 H harus dimaknai sebagai upaya membangun masyarakat yang lebih berilmu, lebih peduli lingkungan, lebih toleran, lebih produktif, dan lebih berkeadilan.
Tantangan Umat Menuju 1448 H
Memasuki 1448 H, setidaknya terdapat tiga tantangan besar yang harus dijawab umat Islam.
Pertama, krisis literasi.
Budaya membaca semakin tergeser oleh budaya menggulir layar. Padahal wahyu pertama adalah:
اقْرَأْ
"Bacalah." (QS. Al-'Alaq: 1)
Umat yang kehilangan tradisi membaca akan kehilangan kemampuan berpikir kritis.
Kedua, krisis keteladanan.
Masyarakat hari ini tidak kekurangan penceramah, tetapi kekurangan figur yang dapat dicontoh.
Sebagaimana dawuh para ulama:
لِسَانُ الْحَالِ أَبْلَغُ مِنْ لِسَانِ الْمَقَالِ
"Keteladanan perbuatan lebih efektif daripada sekadar ucapan."
Ketiga, krisis kepedulian sosial dan ekologis.
Kemiskinan, kerusakan lingkungan, sampah, ketimpangan sosial, serta lunturnya solidaritas merupakan persoalan nyata yang membutuhkan kontribusi umat Islam.
Kesalehan ritual harus diterjemahkan menjadi kesalehan sosial.
Agenda Hijrah 1448 H: Dari Wacana Menuju Aksi
Tahun Baru Islam 1448 H hendaknya menjadi momentum membangun lima agenda hijrah.
1. Hijrah dari konsumsi informasi menuju produksi pengetahuan.
Umat harus kembali menghidupkan budaya membaca, menulis, meneliti, dan berdiskusi.
2. Hijrah dari simbolisme menuju substansi.
Agama tidak cukup dipamerkan, tetapi harus diwujudkan dalam integritas dan akhlak.
3. Hijrah dari individualisme menuju kolaborasi.
Persoalan umat terlalu besar jika diselesaikan sendiri-sendiri.
4. Hijrah dari eksploitasi menuju ekologi.
Merawat bumi adalah bagian dari amanah kekhalifahan.
5. Hijrah dari pesimisme menuju optimisme peradaban.
Islam adalah agama yang selalu mengajarkan harapan dan masa depan.
Penutup: Menjadi Generasi yang Layak Dicatat Sejarah
Tahun Baru Islam 1448 H bukan sekadar pergantian angka dalam kalender. Ia adalah panggilan untuk mengevaluasi arah perjalanan hidup.
Rasulullah ﷺ bersabda:
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ
"Orang cerdas adalah yang mengevaluasi dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian." (HR. at-Tirmidzi)
Maka pertanyaan yang layak kita renungkan bukanlah: "Sudah berapa tahun usia kita?" tetapi:
"Sudah sejauh mana hijrah kita?"
Karena pada akhirnya, sejarah tidak mengenang orang yang sekadar hidup pada suatu zaman. Sejarah mengenang mereka yang berhasil mengubah zamannya.
Menyongsong 1448 H, semoga kita tidak hanya menjadi penonton perjalanan peradaban, tetapi turut menjadi bagian dari mereka yang menulisnya—dengan ilmu, amal, akhlak, dan kebermanfaatan.
Selamat Tahun Baru Islam 1448 Hijriah. Saatnya berhijrah, bukan sekadar memperingati hijrah.

0 Komentar