Ittiṣāl al-Sanad ilā al-Syaikh: Bukan Sekadar Ilmu Tetapi Juga Sulūk dan Akhlāq

In Frame: Abdi Woles 2018-2019

Dalam khazanah keilmuan Islam, ittiṣāl al-sanad ilā al-syaikh (tersambungnya mata rantai keilmuan kepada guru) kerap dipahami secara sempit sebagai legitimasi akademik—sekadar penanda bahwa ilmu yang dipelajari memiliki sumber yang sahih dan bersambung. Padahal, dalam tradisi pesantren dan tasawuf, sanad bukan hanya jalur transmisi pengetahuan (naql al-‘ilm), melainkan juga jalur pembentukan karakter (tashfiyat al-nafs) dan pembiasaan adab (tahdzīb al-akhlāq).

Refleksi ini berangkat dari pelajaran berharga yang disampaikan oleh KH. Abdul Muqshit dalam acara Launching buku Sisik Melik Santri Suci. Pesan-pesan beliau tidak hadir sebagai teori normatif, melainkan sebagai hikmah praksis yang mencerminkan kesinambungan sanad keilmuan yang hidup—ilmu yang menjelma sulūk dan akhlāq. Pesan-pesan beliau menegaskan bahwa ittiṣāl al-sanad ilā al-syaikh bukan hanya memastikan ketersambungan ilmu secara formal, melainkan juga menjaga kesinambungan nilai, sikap hidup, dan kematangan batin. Setidaknya, terdapat empat pelajaran fundamental yang layak direnungkan secara lebih mendalam.

1. Menjaga Kehalalan: Etika Ilmu sebelum Produksi Ilmu

Pelajaran pertama—“jangan mengambil atau memakai sesuatu yang tidak jelas kehalalannya”—bukan sekadar nasihat moral individual, tetapi fondasi epistemologis dalam Islam. Ilmu yang bersumber dari perkara syubhat atau haram akan kehilangan barakah, meskipun tampak cemerlang secara intelektual.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الْحَلَالَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا أُمُورٌ مُشْتَبِهَاتٌ
“Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya terdapat perkara syubhat.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim)

Kemudian Imam al-Ghazālī menegaskan hubungan langsung antara kehalalan dan validitas amal ilmiah:

وَاعْلَمْ أَنَّ الْعِلْمَ عِبَادَةٌ، وَالْعِبَادَةَ لَا تَصِحُّ إِلَّا بِالْحَلَالِ
“Ketahuilah bahwa ilmu adalah ibadah, dan ibadah tidak sah kecuali dengan sesuatu yang halal.”
(Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn)

Dengan demikian, mengambil sesuatu yang syubhat—meskipun tidak haram secara eksplisit—dapat merusak kejernihan hati dan menghalangi cahaya ilmu. Secara qiyās, sebagaimana shalat batal karena najis yang melekat pada pakaian, ilmu pun kehilangan keberkahannya jika sarana hidup penuntutnya tercemar oleh ketidakjelasan halal. Menjaga kehalalan bukan hanya urusan fiqh mu‘āmalah, melainkan bagian integral dari etika keilmuan. Seorang santri atau akademisi yang mengabaikan aspek ini sesungguhnya sedang merusak sanad batin ilmunya sendiri.

2. Tawakkal Duniawi dan Ta‘ẓīm al-Syaikh sebagai Jalan Turunnya Manfaat

Pelajaran kedua menekankan pentingnya tawakkal terhadap urusan dunia dan mendahulukan hurmat kepada guru. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”
(QS. ath-Ṭalāq: 2–3)

Pesan ini dipahami oleh ulama bukan sebagai ajakan meninggalkan ikhtiar, melainkan menata orientasi hidup. Imam az-Zarnūjī menegaskan:

لَا يَنَالُ الْعِلْمَ مَنْ لَمْ يُعَظِّمْهُ وَلَمْ يُعَظِّمْ أَهْلَهُ
“Tidak akan memperoleh ilmu orang yang tidak memuliakan ilmu dan ahlinya (guru).”
(Ta‘līm al-Muta‘allim)

Pesan KH. Abdul Muqshit menegaskan bahwa mengejar dunia dengan mengorbankan adab kepada guru justru memutus sanad batin ilmu. Dalam tradisi ijmā‘ ulama salaf, keberhasilan sejati penuntut ilmu tidak diukur dari cepatnya memperoleh dunia, tetapi dari seberapa besar manfaat ilmu itu membentuk akhlaknya. 

Tawakkal bukan berarti pasif, melainkan menata orientasi: dunia ditempatkan sebagai konsekuensi, bukan tujuan. Dalam perspektif ulama salaf, adab terhadap guru merupakan asbāb al-barakah yang tidak bisa digantikan oleh kecerdasan atau kerja keras semata.

3. Zuhud yang Sunyi: Tidak Bergantung pada Manusia, Memuliakan Tamu Shalih

Pelajaran ketiga tentang zuhud menolak definisi simplistik yang menjadikannya sekadar simbol asketisme lahiriah. Zuhud, sebagaimana ditegaskan oleh Imam Ahmad bin Hanbal, adalah qillat al-ta‘alluq bi al-dunyā—minimnya ketergantungan hati pada dunia, bukan ketiadaan dunia itu sendiri.

Allah SWT berfirman:

لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ
“Agar kamu tidak bersedih atas apa yang luput dari kamu dan tidak terlalu gembira atas apa yang diberikan kepadamu.”
(QS. al-Ḥadīd: 23)

Imam Ahmad bin Hanbal mendefinisikan zuhud secara substansial:

الزُّهْدُ قِصَرُ الْأَمَلِ، لَا أَكْلُ الْغَلِيظِ وَلَا لُبْسُ الْخَشِنِ
“Zuhud adalah pendeknya angan-angan (ketergantungan), bukan sekadar makan kasar dan berpakaian sederhana.”

Imam al-Junayd menambahkan dimensi batiniah:

الزُّهْدُ خُلُوُّ الْقَلْبِ عَمَّا خَلَتْ مِنْهُ الْيَدُ
“Zuhud adalah kosongnya hati dari apa yang telah kosong dari tangan.”

Zuhud sejati sering kali “tidak tampak seperti zuhud”. Ia hadir dalam kemandirian batin, tidak banyak menggantungkan diri pada manusia, namun tetap memuliakan tamu-tamu shalih (ikrām al-ḍuyūf al-ṣāliḥīn). Dalam banyak kitab turots, memuliakan orang shalih dipandang sebagai sarana turunnya rahmat dan keberkahan, karena mereka adalah pembawa nilai, bukan sekadar tamu fisik.

Sikap tidak bergantung pada manusia namun tetap memuliakan tamu-tamu shalih (ikrām al-ḍuyūf al-ṣāliḥīn) adalah wujud zuhud yang matang: mandiri secara batin, tetapi kaya adab dan kasih sosial. 

4. Wara‘ dalam Perkara Mulia: Bahaya Melangkah Tanpa Bimbingan Guru

Pelajaran keempat menekankan prinsip kehati-hatian (wara‘ epistemik): jangan mengambil langkah sendiri dalam perkara-perkara mulia tanpa meminta pandangan guru. Ini sejalan dengan firman Allah:

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Maka bertanyalah kepada orang-orang yang berilmu jika kamu tidak mengetahui.”
(QS. an-Naḥl: 43)

Para ulama tasawuf menegaskan pentingnya bimbingan guru secara tegas. Dalam Risālah al-Qusyairiyyah disebutkan:

مَنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ أُسْتَاذٌ فَإِمَامُهُ الشَّيْطَانُ

“Barang siapa tidak memiliki guru, maka setanlah yang menjadi pemimpinnya.”

Ungkapan ini bukan retorika, melainkan peringatan metodologis. Ilmu—terutama yang menyentuh wilayah akhlak, ibadah, dan posisi sosial—tidak aman jika diputus dari sanad nasihat. Bahkan Imam Mālik pernah berkata:

لَا يُؤْخَذُ الْعِلْمُ عَنْ صُحُفِيٍّ

“Ilmu tidak diambil dari orang yang hanya belajar dari lembaran (tanpa guru).”

Dalam konteks kontemporer, pesan ini menjadi kritik halus terhadap kecenderungan otodidak tanpa adab dan tanpa rujukan sanad. Pesan ini menegaskan bahwa sanad bukan sekadar transmisi teks, melainkan transmisi kebijaksanaan. Tanpa bimbingan guru, seseorang bisa benar secara dalil tetapi keliru dalam adab dan dampak. 

Dari refleksi apa yang telah disampaikan KH. Abdul Muqshit di atas, menjadi jelas bahwa ittiṣāl al-sanad ilā al-syaikh adalah jantung keilmuan Islam. Ia menjaga agar ilmu tidak tereduksi menjadi informasi, dan agama tidak terperangkap dalam formalitas.

Di tengah krisis otoritas dan komodifikasi ilmu hari ini, pesan tersebut menjadi penegasan bahwa sanad sejati tidak hanya terjaga di atas kertas, tetapi tertanam dalam laku hidup. Ilmu yang demikianlah yang tidak hanya mencerahkan akal, tetapi juga menenangkan hati dan menuntun peradaban.

Ilmu yang tersambung sanadnya akan melahirkan ketenangan, kehati-hatian, dan kematangan akhlak. Sebaliknya, ilmu yang terputus dari adab hanya akan melahirkan kegaduhan—cerdas secara wacana, tetapi miskin hikmah. Di sinilah sanad berfungsi bukan hanya sebagai warisan, melainkan sebagai tanggung jawab moral dan spiritual lintas generasi.

Wa-Allāhu a‘lam biṣ-ṣawāb

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Refleksi ini sekaligus dipersembahkan sebagai ungkapan syukur dan cinta takzim pada guru ruhani penulis, Romo Kyai Masbuhin Faqih, yang telah menjadi murabbī rūḥ—bukan hanya mengajarkan kata dan makna, tetapi menuntun laku, menata batin, dan menanamkan adab sebelum ilmu.

Selamat milad ke-78, Romo Kyai.
Semoga Allah SWT senantiasa memanjangkan umur panjenengan dalam keberkahan,
menyehatkan jasad dan menenangkan ruh,
melanggengkan pancaran hikmah dalam setiap dawuh,
serta menjadikan jejak tarbiyah panjenengan
sebagai cahaya yang terus mengalir dalam sanad keilmuan dan akhlak para santri.

Jika hari ini kami masih belajar menata niat,
masih sering tergelincir dalam bangga dan ingin dipuji,
itulah tanda bahwa doa dan ridho Romo Kyai
belum berhenti membimbing kami—
dalam sunyi, dalam sabar,
sebagaimana seorang mursyid menuntun murid
tanpa menuntut dilihat.

Semoga Allah membalas setiap letih panjenengan
dengan ridha-Nya,
dan menghimpunkan kita semua
dalam barisan hamba-hamba-Nya yang shalih.

In Frame: Angkatan Pertama Komplek Tahfidz


Posting Komentar

0 Komentar