Menjaga Adab, Menjaga Marwah Ilmu: Refleksi atas Kasus Pelecehan terhadap Kiai dan Pesantren

Belakangan ini publik dihebohkan oleh sebuah tayangan televisi yang dianggap melecehkan sosok kiai sepuh dan lembaga pesantren. Reaksi keras datang dari kalangan santri dan masyarakat pesantren, karena hal itu dianggap menodai kehormatan ulama—sosok yang selama ini menjadi panutan spiritual dan penjaga moral umat.

Sebagai santri, saya merasa terpanggil untuk menulis refleksi ini. Bukan sekadar ikut arus emosi, tapi sebagai ikhtiar moral untuk mengingatkan kembali nilai luhur adab terhadap guru, sebagaimana diajarkan oleh Al-Qur’an, hadits, dan kitab-kitab klasik warisan ulama.


Kiai dan Pesantren: Penjaga Ilmu dan Akhlak

Dalam Islam, posisi ulama dan guru bukanlah posisi biasa. Mereka adalah waratsatul anbiya’ (pewaris para nabi).
Rasulullah ﷺ bersabda:

العُلَمَاءُ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ، وَإِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا، إِنَّمَا وَرَّثُوا العِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
“Para ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar atau dirham, tetapi mereka mewariskan ilmu. Maka barang siapa mengambil ilmu itu, sungguh ia telah mengambil bagian yang banyak.”
(HR. Abu Dawud)

Artinya, menghormati ulama sama dengan menghormati warisan kenabian.
Allah SWT pun berfirman:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
(QS. Al-Mujādilah: 11)

Maka, merendahkan ulama sama saja dengan merendahkan derajat ilmu yang Allah muliakan.


Adab: Pintu Masuk Ilmu dan Barakah

Imam al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din menjelaskan bahwa ilmu tak akan bermanfaat tanpa adab. Beliau berkata:

العِلْمُ لَا يُعْطِيكَ بَعْضَهُ حَتَّى تُعْطِيَهُ كُلَّكَ، فَإِذَا أَعْطَيْتَهُ كُلَّكَ أَنْتَ مِنْ بَعْضِهِ عَلَى خَطَرٍ
“Ilmu tidak akan memberikan sebagian dirinya kepadamu sebelum engkau memberikan seluruh dirimu kepadanya. Dan jika engkau telah menyerahkan seluruh dirimu kepadanya, engkau masih tetap berada dalam bahaya kehilangan sebagian darinya.”
(Ihya’ ‘Ulum al-Din, Juz 1)

Ungkapan ini menunjukkan bahwa untuk memperoleh ilmu, murid harus menyerahkan dirinya secara penuh dengan tunduk, hormat, dan beradab kepada guru.

Sementara Syaikh Az-Zarnuji dalam Ta‘lim al-Muta‘allim menegaskan:

وَيَنْبَغِي لِلتِّلْمِيذِ أَنْ يَتَوَاضَعَ لِلْمُعَلِّمِ، وَلَا يُخَالِفَهُ فِي كَلَامِهِ، وَلَا يَمْشِيَ بَيْنَ يَدَيْهِ، وَلَا يَجْلِسَ مَكَانَهُ، وَلَا يَبْدَأَ الْكَلَامَ قَبْلَهُ
“Seyogianya murid bersikap tawadhu’ kepada gurunya, tidak menentang ucapannya, tidak berjalan di depannya, tidak duduk di tempatnya, dan tidak memulai pembicaraan sebelum diizinkan.”
(Ta‘lim al-Muta‘allim, Bab IV)

Adab-adab ini tampak sederhana, namun memiliki makna mendalam: guru adalah pintu ilmu dan rahmat, maka adab kepada guru adalah kunci keberkahan ilmu itu sendiri.


Hadits-Hadits tentang Kemuliaan Guru

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَكْرَمَ عَالِمًا فَقَدْ أَكْرَمَنِي، وَمَنْ أَكْرَمَنِي فَقَدْ أَكْرَمَ اللهَ، وَمَنْ أَكْرَمَ اللهَ فَمَأْوَاهُ الجَنَّةُ
“Barang siapa memuliakan seorang ulama, maka ia telah memuliakan aku; dan barang siapa memuliakanku, maka ia telah memuliakan Allah; dan barang siapa memuliakan Allah, maka tempat kembalinya adalah surga.”
(HR. Thabrani)

Dalam hadits lain, Rasulullah ﷺ mengingatkan:

ليس من أمتي من لم يجلّ كبيرنا، ويرحم صغيرنا، ويعرف لعالمنا حقه
“Tidak termasuk umatku orang yang tidak menghormati yang tua, tidak menyayangi yang muda, dan tidak mengetahui hak orang alim.”
(HR. Ahmad)

Hadits ini menjadi peringatan bahwa hilangnya rasa hormat kepada guru berarti hilangnya identitas umat Nabi Muhammad ﷺ.


Logika Iman: Menghina Guru = Meruntuhkan Ilmu

Mari kita renungkan dengan nalar yang jernih.
Ilmu adalah cahaya, dan guru adalah pelitanya. Bila pelita dihina, siapa yang akan menerangi kegelapan?
Jika ulama dilecehkan, siapa lagi yang akan menjaga akidah dan akhlak umat?

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَوْتُ الْعَالِمِ مُصِيبَةٌ لَا تُجْبَرُ، وَثُلْمَةٌ فِي الْإِسْلَامِ لَا تُسَدُّ
“Kematian seorang alim adalah musibah yang tak tergantikan, dan celah dalam Islam yang tak tertutup.”
(HR. Ad-Darimi)

Maka, melecehkan guru bukan hanya kesalahan etika, tapi juga serangan terhadap sendi keilmuan dan spiritualitas Islam.


Konsekuensi bagi yang Usul Adab kepada Guru

Dalam kitab Adab al-‘Alim wa al-Muta‘allim, Imam al-Nawawi menulis:

مَنْ تَجَاوَزَ الْأَدَبَ مَعَ مُعَلِّمِهِ، حُرِمَ الْإِنْتِفَاعَ بِعِلْمِهِ
“Barang siapa melanggar adab terhadap gurunya, maka ia akan diharamkan mendapatkan manfaat dari ilmu gurunya.”

Artinya, pelanggaran adab terhadap guru tidak hanya berdampak di dunia, tetapi juga menghilangkan keberkahan ilmu dan membawa hukuman spiritual.
Bahkan para ulama mengatakan, dosa semacam itu bisa menyebabkan su’ul khatimah (akhir hidup yang buruk), karena hilangnya adab berarti hilangnya cahaya iman.


Tugas Kita Sebagai Santri dan Umat

Sebagai santri, kita tidak boleh membalas keburukan dengan keburukan. Kita harus tetap beradab, tetapi tegas menegakkan marwah guru.
Kita bisa menempuh langkah-langkah bijak:

  • Menegur dengan santun namun tegas.

  • Melaporkan secara etis jika terjadi pelecehan publik.

  • Mendidik masyarakat tentang pentingnya menghormati ulama.

  • Menyebarkan konten positif yang menampilkan keteladanan kiai dan pesantren.

Kita juga harus berdoa agar para pelaku pelecehan disadarkan dan diberi hidayah. Sebab, tugas santri bukan hanya belajar ilmu, tapi juga mewarisi akhlak rahmah (kasih sayang) dari gurunya.


Penutup: Adab Lebih Tinggi dari Ilmu

Kiai saya pernah berkata:

“Ilmu tanpa adab akan menjadi bencana. Tapi adab tanpa ilmu masih bisa menyelamatkan.”

Kasus pelecehan terhadap kiai ini menjadi cermin bagi kita semua. Di era kebebasan digital, adab harus menjadi benteng moral kita.
Sebab jika adab hilang, maka barakah pun lenyap.

Mari kita jaga marwah guru, muliakan ulama, dan rawat pesantren sebagai taman ilmu dan akhlak bangsa.
Sebab, tanpa adab, ilmu hanya akan melahirkan kesombongan; tapi dengan adab, ilmu menjadi cahaya yang menuntun umat menuju ridha Allah.


📚 Referensi:

  1. Al-Qur’an, QS. Al-Mujādilah: 11

  2. HR. Abu Dawud, HR. Thabrani, HR. Ahmad

  3. Imam Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum al-Din, Juz 1

  4. Syaikh Az-Zarnuji, Ta‘lim al-Muta‘allim, Bab IV

  5. Imam Al-Nawawi, Adab al-‘Alim wa al-Muta‘allim

  6. Ad-Darimi, Sunan ad-Darimi, Bab Fadhlu al-‘Ulama

Posting Komentar

0 Komentar