Di sebuah ruang rawat Puskesmas Kwadungan, suasana hening kerap hanya dipecah oleh bunyi napas yang berat dan aroma antiseptik yang menempel di udara. Namun pada hari itu, hadir sesuatu yang berbeda—suara lembut salam, ayat-ayat doa, dan senyum penyuluh agama yang datang bukan untuk memeriksa tekanan darah, melainkan detak jiwa.
Kegiatan BIMROHIS (Bimbingan Rohani Islam) oleh Penyuluh Agama KUA Kwadungan yang menyapa pasien, menerima curhatan, memberikan bimbingan rohani, dan mendoakan mereka, sesungguhnya menyimpan makna teologis dan kemanusiaan yang mendalam.
Kunjungan sederhana itu adalah perjumpaan antara luka dan doa; antara tubuh yang lemah dan jiwa yang berharap. Dalam pandangan Islam, sakit bukan hanya peristiwa biologis, tetapi juga momen spiritual di mana manusia diingatkan akan kefanaan dan ketergantungannya pada Sang Maha Penyembuh. Sebagaimana diabadikan dalam firman Allah Swt.:
وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ
“Dan apabila aku sakit, maka Dialah yang menyembuhkan aku.”
(QS. Asy-Syu‘ara: 80)
Ayat ini mengajarkan kesadaran tauhid yang murni—bahwa segala daya penyembuhan sejatinya milik Allah, sementara dokter, perawat, dan bahkan penyuluh hanyalah perantara kasih-Nya. Dalam konteks itulah BIMROHIS hadir: mempertemukan iman dan ikhtiar dalam satu ruang kemanusiaan yang sama.
Mendengar sebagai Ibadah
Ketika seorang penyuluh duduk di samping pasien, mendengarkan keluh kesahnya, ia sesungguhnya tengah beribadah dalam bentuk yang jarang dibicarakan: ibadah mendengar.
Mendengar bukan sekadar menampung suara, tetapi menyalurkan empati, memberi ruang kepada jiwa yang rapuh untuk mengurai beban. Dalam Ihya’ Ulum ad-Din, Imam al-Ghazali menulis bahwa mendengarkan keluh kesah orang lain dengan hati yang hadir adalah amal batin yang memurnikan niat dan mengasah kasih sayang (rahmah).
Sakit sering kali bukan hanya urusan tubuh, melainkan juga kesepian yang menebal di dada. Maka ketika penyuluh mendengarkan, ia sedang menyembuhkan luka yang tak tampak.
Itulah mengapa Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ عَادَ مَرِيضًا أَوْ زَارَ أَخًا لَهُ فِي اللَّهِ، نَادَاهُ مُنَادٍ: أَنْ طِبْتَ وَطَابَ مَمْشَاكَ، وَتَبَوَّأْتَ مِنَ الْجَنَّةِ مَنْزِلًا
“Barang siapa menjenguk saudaranya yang sakit atau mengunjunginya karena Allah, maka penyeru akan berkata: ‘Semoga engkau baik, perjalananmu baik, dan engkau menempati tempat di surga.’”
(HR. Muslim)
Hadis ini bukan sekadar janji pahala, tetapi pengakuan bahwa kunjungan rohani adalah bentuk kehadiran Ilahi di tengah penderitaan manusia. Dalam setiap jabat tangan dan doa, ada percikan rahmat yang menenangkan hati pasien.
Doa dan Harapan di Ruang Perawatan
Bimbingan rohani yang dilakukan penyuluh bukan hanya ritual bacaan, melainkan tindakan komunikasi spiritual yang menghubungkan pasien dengan sumber pengharapan tertinggi.
Ketika seorang pasien berkata “Saya pasrah,” sebenarnya ia sedang mempraktikkan salah satu maqam tertinggi dalam tasawuf: tawakkal.
Dalam hadis Nabi ﷺ disebutkan:
اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ، أَذْهِبِ الْبَأْسَ، اشْفِ أَنْتَ الشَّافِي، لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا
“Ya Allah, Rabb manusia, hilangkanlah penyakit ini dan sembuhkanlah. Engkaulah Penyembuh, tiada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan rasa sakit.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Doa semacam ini tidak hanya memberi efek psikologis, tetapi juga spiritual. Dalam dunia modern, efek itu dikenal sebagai healing presence — kehadiran yang menenangkan dan mempercepat pemulihan. Namun dalam terminologi Islam, itu disebut syifā’, rahmat penyembuhan dari Allah yang datang melalui iman dan doa.
Meruntuhkan Sekat antara Agama dan Pelayanan Publik
Kehadiran penyuluh agama di Puskesmas juga memiliki makna sosial yang besar. Ia meruntuhkan dinding yang selama ini memisahkan ruang agama dan ruang publik.
Agama tidak hanya hidup di mimbar dan masjid, tapi juga di lorong-lorong rumah sakit, di mana manusia diuji oleh rasa sakit dan ketidakberdayaan. Di situlah agama tampil dalam bentuk paling nyata: kasih, doa, dan pengharapan.
Dengan demikian, BIMROHIS bukan hanya kegiatan rutin keagamaan, melainkan praktik teologi publik—upaya menghadirkan nilai-nilai ilahiah dalam kebijakan dan pelayanan masyarakat.
Dalam perspektif ini, penyuluh agama berperan sebagai dā‘ī rahmatan lil ‘ālamīn yang membawa pesan kasih di tengah ruang-ruang penderitaan.
Pelajaran dari Tradisi Klasik
Dalam khazanah klasik Islam, para ulama telah lama menekankan keterkaitan antara kesehatan jasmani dan ketenangan ruhani. Imam Ibn Qayyim al-Jauziyyah dalam karya monumentalnya Zād al-Ma‘ād fī Hadyi Khayr al-‘Ibād menulis:
قال ابن القيم رحمه الله:
"وَاعْلَمْ أَنَّ أَصْلَ دَوَاءِ الْقَلْبِ وَعِلَاجِهِ هُوَ حِفْظُ الْقُوَى وَحِمَايَتُهَا، وَالْقَلْبُ إِذَا صَلَحَ صَلَحَ الْبَدَنُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَ فَسَدَ الْبَدَنُ كُلُّهُ، وَدَوَاءُ الْقَلْبِ مُقَدَّمٌ عَلَى دَوَاءِ الْبَدَنِ."
(Ibn Qayyim al-Jawziyyah, Zād al-Ma‘ād, juz 4, hlm. 11)
Artinya:
“Ketahuilah bahwa asal segala pengobatan hati dan penyembuhannya adalah dengan menjaga kekuatan (iman dan ruhani) serta melindunginya. Jika hati baik, maka seluruh tubuh akan baik; dan jika hati rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Maka pengobatan hati harus didahulukan atas pengobatan jasad.”
Kutipan ini menegaskan bahwa dalam perspektif Islam, penyembuhan sejati tidak dimulai dari tubuh, melainkan dari hati. Ketika hati seseorang tenteram, tubuh pun akan lebih siap menerima kesembuhan.
Pandangan Ibn Qayyim ini sejalan dengan sabda Nabi ﷺ:
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ.
“Ketahuilah, dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh; dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati.” (HR. al-Bukhārī dan Muslim)
BIMROHIS menapaki jalan hikmah itu: menyembuhkan yang tampak dengan doa, dan yang tak tampak dengan kasih. Penyuluh hadir bukan untuk menggantikan dokter, melainkan menambahkan makna — bahwa setiap rasa sakit menyimpan pesan Ilahi, setiap air mata bisa menjadi zikir, dan setiap pasien adalah taman tempat tumbuhnya sabar dan harapan.
Menjadi Lentera bagi yang Rapuh
Pada akhirnya, esensi dari BIMROHIS bukanlah seremonial doa di ruang pasien, melainkan pembelajaran tentang empati dan kemanusiaan.
Penyuluh agama, dengan tutur lembut dan sentuhan spiritualnya, menjadi lentera bagi mereka yang rapuh. Mereka tidak hanya membimbing orang sakit menuju kesembuhan, tapi juga mengajarkan masyarakat bahwa spiritualitas bukan barang mewah—ia adalah kebutuhan dasar manusia.
Sebagaimana diungkapkan dalam pepatah Arab klasik:
الدِّينُ هُوَ الْعَطْفُ وَالرَّحْمَةُ
“Agama itu kasih dan kelembutan.”
Di tengah dunia yang kian bising dan mekanis, kegiatan seperti BIMROHIS menjadi oase yang mengingatkan kita bahwa agama sejatinya bukan sekadar sistem kepercayaan, melainkan seni merawat manusia dengan penuh kasih.
Maka, ketika seorang penyuluh di Kwadungan menundukkan kepala dan berdoa di sisi pasien, ia sesungguhnya sedang menegaskan kembali makna paling hakiki dari dakwah: membawa cahaya ke tempat yang paling gelap, dan menyalakan harapan di hati yang paling lemah.

0 Komentar