Oleh: Muhammad Robbish Thovani
Di zaman serba digital ini, hampir semua orang tak bisa lepas dari hp.
Bangun tidur, yang dicari pertama bukan air wudhu, tapi notifikasi WhatsApp.
Lagi makan, tangannya sibuk scroll Instagram. Malam-malam, bukan dzikir
pengantar tidur, tapi TikTok yang bikin melek sampai tengah malam. Kalau begini
terus, kapan kita sempat dekat dengan Allah?
Padahal, Rasulullah ﷺ sudah memberi kita
bekal hidup agar tak terjebak dalam pusaran dunia: namanya zuhud. Kata
ini mungkin terdengar berat atau asing bagi sebagian orang. Tapi sebenarnya,
makna zuhud sangat sederhana: tidak terlalu cinta dunia dan tidak tergantung
pada hal-hal duniawi. Bukan berarti kita harus hidup miskin, tinggal
di hutan, atau meninggalkan media sosial sama sekali. Bukan itu.
Zuhud bukan
tentang membuang dunia, tapi tentang mengendalikan hati agar tidak
dikendalikan dunia.
Dunia Maya, Ujian Nyata
Di era digital,
ujian dunia bukan lagi soal harta atau jabatan semata, tapi juga soal pengakuan,
popularitas, dan validasi dari orang lain. Kita merasa senang kalau
postingan kita banyak yang like. Kita jadi galau kalau story cuma dilihat 3
orang. Tanpa sadar, hati kita mulai tergantung pada penilaian orang lain, bukan
penilaian Allah.
Zuhud hadir
sebagai rem. Ia mengajarkan kita untuk tidak menjadikan media sosial sebagai
alat pencitraan, tapi sebagai alat dakwah, berbagi manfaat, atau membangun
jaringan kebaikan. Jangan sampai gawai membuat kita lalai dari tujuan hidup
yang sebenarnya.
Boleh Punya, Jangan Diperbudak
Kita boleh
punya HP canggih, laptop mahal, bahkan followers ribuan. Tapi semua itu hanya alat,
bukan tujuan. Orang zuhud tidak anti harta, tapi ia tahu bahwa harta
tidak akan dibawa mati. Orang zuhud tetap aktif di media sosial, tapi ia
menjaga diri agar tidak pamer, tidak menyebar hoaks, dan tidak menebar iri.
Contohnya,
daripada posting makanan mewah setiap hari, kenapa tidak sesekali berbagi resep
sederhana yang bisa dimasak oleh semua kalangan? Daripada unggah liburan ke
luar negeri, lebih baik sesekali berbagi cerita tentang masjid kecil di kampung
yang penuh keberkahan. Dengan cara ini, kita tetap bisa eksis tanpa kehilangan
arah hidup.
Menjadi Manusia yang Dicintai Allah
Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadis
ke-31 Arbain Nawawi:
"Zuhudlah terhadap dunia, niscaya Allah akan mencintaimu. Zuhudlah
terhadap apa yang dimiliki manusia, niscaya manusia akan mencintaimu." (HR. Ibnu Majah)
Artinya jelas:
kalau kita tidak rakus pada dunia dan tidak iri pada rezeki orang lain, maka
kita akan dicintai oleh Allah dan juga disukai oleh sesama manusia. Siapa sih
yang nggak mau hidupnya penuh cinta dari Allah dan orang lain?
Zuhud
menjauhkan kita dari penyakit hati seperti iri, dengki, sombong, dan ujub. Ia
juga membuat kita lebih ringan dalam hidup. Nggak gampang stres karena tidak
membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain. Nggak gampang minder karena
kita tahu bahwa nilai kita tidak ditentukan oleh barang yang kita miliki, tapi
oleh ketakwaan dan kontribusi kita pada kebaikan.
Cara Praktis Zuhud di Era Digital
Berikut ini
beberapa langkah kecil yang bisa kita coba untuk mengamalkan zuhud di tengah
derasnya arus digital:
- Kurangi posting yang
tidak perlu – Tanyakan pada diri
sendiri, “Apa manfaatnya buat orang lain?”
- Batasi waktu di media
sosial – Gunakan alarm atau
atur waktu khusus agar tidak kecanduan.
- Follow akun-akun
bermanfaat – Yang bisa menambah
ilmu, bukan hanya hiburan semata.
- Jangan iri dengan
rezeki orang lain – Kita tidak pernah
tahu perjuangan di balik foto-foto indah itu.
- Gunakan digital untuk dakwah dan berbagi – Buat
konten ringan, tapi penuh makna.
Penutup
Zuhud di era digital bukan tentang meninggalkan dunia, tapi membebaskan
hati dari belenggu dunia. Dunia boleh ada di genggaman, asal jangan masuk
ke dalam hati. Gawai boleh canggih, tapi jangan sampai
membuat kita jauh dari Allah.
Mari kita
gunakan teknologi dengan bijak. Bukan untuk pamer, tapi untuk memberi manfaat.
Bukan untuk mencari pengakuan, tapi untuk mencari ridha-Nya. Karena pada
akhirnya, yang membuat hidup kita berarti bukan seberapa banyak yang kita
miliki, tapi seberapa besar kita bisa memberi.

0 Komentar