Ulama Panggung dan Krisis Keteladanan

Di era digital, agama sering tampil bukan lagi sebagai jalan menuju kebenaran, tetapi sebagai tontonan. Dakwah menjelma menjadi “konten”, ceramah berubah menjadi “show”, dan sebagian figur agama tampil layaknya selebritas. Mereka viral bukan karena kedalaman ilmunya, tetapi karena kelincahan retorika dan kelihaiannya membaca algoritma. Gelar “Gus”, “Habib”, atau “Ustaz” kini tak selalu menjadi penanda keilmuan, melainkan kadang sekadar label untuk meneguhkan popularitas.

Fenomena ini menyingkap sebuah kenyataan getir: sebagian tokoh agama telah terperangkap dalam panggung popularitas yang menjauhkan mereka dari esensi kenabian. Mereka bukan lagi waratsat al-anbiya’ (pewaris Nabi), tetapi berubah menjadi penghibur publik dengan konten sensasional.

Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:

يَحْمِلُ هَذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُولُهُ، يَنْفُونَ عَنْهُ تَحْرِيفَ الْغَالِينَ، وَانْتِحَالَ الْمُبْطِلِينَ، وَتَأْوِيلَ الْجَاهِلِينَ
“Ilmu ini akan dibawa oleh orang-orang adil dari setiap generasi; mereka menyingkirkan penyimpangan kaum ekstrem, klaim palsu orang-orang batil, dan penafsiran orang-orang bodoh.”
(HR. al-Baihaqi, al-Madkhal ilā al-Sunan al-Kubrā, no. 439)

Namun di zaman ini, batas antara ‘adul dan mubtil semakin kabur. Banyak yang mengutip dalil, tapi tanpa pemahaman; banyak yang menyeru kebaikan, tapi tak menjadi teladan. Imam al-Ghazali dalam Ihyā’ ‘Ulūmiddīn mengingatkan:

“Kebinasaan ulama ada dua: cinta dunia dan takut kehilangan status.”
(Ihyā’, Juz 1, h. 65)

Kedua penyakit inilah yang menjerumuskan sebagian tokoh agama menjadi ulama panggung—terlalu sibuk mempertahankan pengaruh, hingga lupa memperdalam ruh ilmu dan akhlak. Mereka lebih takut kehilangan pengikut daripada kehilangan ridha Allah.

Padahal Allah telah memperingatkan:

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Maka bertanyalah kepada ahlinya jika kamu tidak mengetahui.” (QS. an-Nahl [16]: 43)

Ayat ini tidak hanya perintah untuk mencari ilmu, tetapi juga peringatan agar berhati-hati memilih guru. Tidak semua yang fasih bicara tentang agama adalah ahl al-dzikr. Sebagian hanya mengutip, bukan memahami; memviralkan ayat tanpa menanamkan hikmah.

Rasulullah ﷺ juga memperingatkan para penyeru kebaikan yang tidak menjadi teladan:

يُؤْتَى بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ، فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُ بَطْنِهِ...
“Akan didatangkan seseorang pada hari kiamat lalu dilemparkan ke neraka, ususnya keluar dan ia berputar seperti keledai di penggilingan. Dikatakan kepadanya: Bukankah engkau memerintah kebaikan dan melarang kemungkaran? Ia menjawab: Aku memerintah kebaikan tapi tidak melakukannya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini mengguncang nurani — betapa banyak orang berbicara tentang amar ma’ruf nahi munkar, namun hidupnya justru bertentangan dengan ucapannya.

Krisis Keteladanan

Krisis utama umat hari ini bukan kekurangan penceramah, tetapi kekurangan uswah hasanah (teladan mulia). Dakwah kehilangan rohnya ketika disampaikan tanpa ketulusan. Al-Imam Ibn Rajab al-Hanbali menegaskan dalam Jāmi‘ al-‘Ulūm wa al-Hikam:

“Ilmu tanpa amal adalah hujjah yang mematikan pemiliknya.”

Keteladanan adalah jiwa dakwah. Nabi Muhammad ﷺ tidak hanya mengajarkan, tetapi juga menjadi perwujudan ajarannya. Firman Allah:

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
“Sungguh pada diri Rasulullah ada teladan yang baik bagimu.” (QS. al-Ahzab [33]: 21)

Ketika ulama kehilangan uswah-nya, maka umat kehilangan arah. Dakwah tanpa keteladanan hanya melahirkan perdebatan, bukan perubahan.

Ajakan untuk Umat

Masyarakat kini harus cerdas dan berhati-hati. Jangan menilai kebenaran dari siapa yang paling viral, tetapi dari siapa yang paling beradab. Jangan cepat men-judge, karena kadang kesalahan muncul dari framing media atau potongan konten yang menyesatkan.

Sebagaimana nasihat Ibn Sirin:

إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ
“Sesungguhnya ilmu ini adalah bagian dari agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.”
(HR. Muslim, Muqaddimah Shahih Muslim, no. 26)

Masyarakat perlu bijak dalam:

  1. Memilih sumber ilmu – pastikan berasal dari guru yang sanadnya jelas, akhlaknya lurus, dan ucapannya menuntun, bukan memecah-belah.
  2. Menerima informasi keagamaan – jangan telan mentah setiap potongan video atau potongan ceramah yang sengaja dipotong untuk kontroversi.
  3. Menahan diri dari menghakimi – karena kadang yang salah bukan ulamanya, tapi framing yang sengaja dibuat untuk mengadu domba.

Belajarlah kepada orang yang tenang, rendah hati, dan menjaga lisannya dari kebencian. Jangan mudah terpancing oleh ustaz yang lebih sibuk mencaci daripada mendidik, karena Nabi tidak diutus untuk memaki, tapi untuk menyempurnakan akhlak:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”
(HR. al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, no. 273)

Penutup

Kita hidup di masa di mana panggung lebih ramai daripada mimbar ilmu. Tapi ingatlah, popularitas bukan jaminan kebenaran, dan sorban bukan simbol kemuliaan jika tak disertai keteladanan.
Ulama sejati tidak sibuk tampil, tetapi hadir — bukan untuk menghibur, tapi untuk menuntun.

Agama akan kembali agung bila disampaikan dengan adab, diamalkan dengan akhlak, dan dijaga dari tangan-tangan yang menjadikannya alat untuk berkuasa.



Posting Komentar

0 Komentar